Gambaran Umum
1. Sejarah Nagari
a. Mengirim Penjelajah Untuk Survey
Nagari Sungai Batang yang luasnya +2304 dengan jumlah Penduduk sekarang berjumlah 4365 jiwa, yang dahulunya berasal dari daerah IV koto Kabupaten Agam yaitu Sianok, Koto gadang, guguak, Tabek Sarojo, Koto Tuo, Balingka, Malalak dan Sungai landia, ada juga dari Kurai dan Banuhampu.
Dalam perjalanan waktu terjadi gelombang perpindahan penduduk dari timur kebarat,yang disebabkan oleh pertambahan jumlah manusia yang tak seimbang dengan luas areal pertanian yang semakin sempit, sehingga kemudian perpindahan ini sampai ke Matur dan Lawang setelah Pauah dan Parik panjangpun melimpah.dari hari kehari pun masyarakat berkembang hingga memenuhi sampai ke Padang Gelanggang, dan tahunpun berganti manusia bertambah banyak, untuk pengembangan dan perluasan daerah di Padang Gelanggangpun tak memungkinkan lagi, dikarenakan Padang Gelanggang yang sempit dan berbukit serta mempunyai jurang yang sangat dalam (Sekarang menjadi kelok 44), maka timbullah ide bagi para Niniak Mamak untuk turun keranah Barat menuju hutan subur memagar Danau, lalu dibentuklah expedisi petualang untuk “Meninjau-ninjau” kesana, Setelah segala persiapan keberangkatan selesai, maka dilepaslah dua rombongan penjelajah, Satu kelompok keutara dengan menuruni jurang lewat Puncak Lawang, untuk selanjutnya mengambil jalur kehiliran Danau, Satu lagi mengarah keselatan dengan menempuh ngarai lewat Pintu Aua, terus melereng Bukik silayu sampai kekampung Panji sekarang. Itulah dua pintu gerbang menuju wilayah operasional (Lawang yang juga berarti pintu).
Setelah beberapa lama melakukan penjelajahan, kedua kelompok ini kebali kedaerah Matur untuk melaporkan hasil penelitiannya kepada Niniak Mamak. Maka para Niniak Mamak sebagai perancang expedisi menetapkan untuk membuka hutan (manaruko),membangun sawah ladang serta pemukiman di daerah temuan baru itu. Setelah beberapa musim berlalu akhirnya daerah baru itu berhasil digarap menjadi sawah, lading dan permukiman penduduk.Yang keutara mendirikan pemukiman didaerah yang sekarang bernama Nagari Paninjauan, dan yang keselatan membangun wilayah pemukiman menjadi Nagari Sungai Batang.
b. Kondisi Denah Cikal Bakal Nagari Sungai Batang
Berhari-hari rombongan yang ditugaskan kehulu Danau meneliti daerah yang memungkinkan untuk lahan pertanian, akhirnya mereka menemukan satu dataran rendah berhutan rawa, disana mengalir dua anak sungai yang tak pernah kering, serta banyak tumbuh mata air.Inilah lahan yang sangat ideal untuk persawahan.Kemudian arah ketikurnya berjejer bukit-bukit kecil dan lembah yang cocok untuk perladangan dan permukiman.Areal inilah yang sekarang bernama Bancah di Jorong Nagari.Dengan jumlah pekerja serta peralatan yang memadai sesuai dengan zaman itu, mulailah mereka menebangi pohon-pohon kayu.
Untuk merobohkan kayu-kayu ukuran raksasa tidaklah mungkin mempergunakan kampak, tapi dengan cara mebakar pangkal batangnya, dibekas tekukan kampak dihidupkan bara api, Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan api membakar barulah batang kayu tersebut tumbang sendiri. Rumpun dan jaringan akarnya tidak sampai terbakar, tapi dibiarkan sampai lapuk didalam tanah. Nah bekas-bekas rumpun kayu yang sudah hancur itu meninggalkan lubuk lumpur yang cukup dalam , yang sampai sekarang masih bisa ditemui apa yang disebut orang dengan “sawah dalam”. Kalau saat menanamnya tidak memakai pelampung, bisa tenggelam kedalam lumpur.
Selama belum menghasilkan, para pekerja bergantian bolak balik ke Matur untuk mengambil bekal, sehingga jalur perlintasan mereka ini kemudian bernama kampung Labuah, artinya jalan.Setelah mulai berangsur panen, barulah mulai membuat dangau-dangau sederhana untuk menetap sementara.Lokasinya dilereng bukit kecil.Disini mereka menanam sayur mayur kebutuhan sehari-hari, disamping belajar menangkap ikan ditepian danau.Tempat inilah awal pemukiman yang lazim disebut taratak, yang sekarang bernama Kampung Koto Tuo.
Melihat prospek bancah yang menjanjikan, menyusullah orang-orang disekitar Matur dan IV Koto membuka lahan, Gelombang kedatangan ini ditampung di Koto Tuo, sehingga lama kelamaan kampung ini padat oleh berbagai suku.Terpaksalah pendatang awal mengalah dan pindah kedaerah bukit sebelahnya bernama Guguak.Para tamu ini mendapatkan daerah persawahan nomor dua, artinya lahan tanpa mata air, yaitu disebelah utaranya sawah bancah arah ke Batang Ranggeh.Untuk perairannya mereka membangun irigasi yang sumber airnya dari bawah kampong guguak, disitu ditemui mata air permanen dengan debit air melimpah.Lalu dibangunlah semacam waduk penampungan untuk dialirkan kepersawahan secara bergiliran (batipak).Waduk tersebut kemudian bernama Aiya Salubuak.
c. Berdirinya Nagari Sungai Batang
Hasil panen setiap tahun berlimpah ruah, pisang sudah menghasilkan,kelapa mulai berbuah, sayur mayur tumbuh subur, sehingga di pasarkan sampai ketanah leluhur IV Koto,perkembangan penduduk begitu pesat. Kampuang guguak telah menjalar ketimur kemudian membentuk komunitas kampong Balai.Sebhagian berinisiatif meluaskan taruko kedaerah selatan yang kemudian berbentuk kampong Batung Panjang. Dari transit Koto Tuo berangsur pindah ke Ikue Pisang dan Koto Tenggai (Koto Tinggi). Perluasan sawahpun sampai ketimur menuju “lembah” kaki bukit. Pelan-pelan daerah perlintasan jalur ke Matur sudah dibuka dan membangun kampong yang bernama Labuah….. maka dalam perkembangan selanjutnya daerah asal membentuk Jorong bernama Nagari, di selatan mendirikan Jorong Batung Panjang dan di timur berdiri Jorong Labuah, dengan jorong inilah terbentuknya sebuah Nagari bernama Nagari Sungai Batang.
Syarat untuk berdirinya suatu nagari ada 5 yaitu :
1. Babalai bamunsajik
2. Balabuah batapian
3. Basasok bajarami
4. Bapandam bapakuburan
5. Ba-ka ampek suku
Semua itu telah terpenuhi……
Balai sebagai sarana musyawarah dan pasar sudah berdiri di Jorong Nagari, begitu juga Mesjid Jamiak di aiya salubuak.Labuah sebagai sarana lalu lintas serta tapian tempat mandi lengkap di setiap Jorong yang tiga.
Sasok jarami yang berarti lahan perladangan dan persawahan membentang luas dan berproduksi sesuai kebutuihan masyarakat.Pemakaman umum disediakan di tempat tertentu bernama Pandam.Thun berjalan penduduk Nagari Sungai Batang sudah memenuhi syarat bahkan lebih.Caniago di guguak dan balai, tanjuang di ikue pisang, guci dan suku koto di Koto Tenggai, Pili dan sikumbang di jorong labuah serta jambak dan melayu di Batung Panjang.
Setelah beberapa generasi kebelakang Nagari Sungai Batang telah berkembang menjadi 4 jorong dengan masuknya Jorong Batu Ajuang. Dan menurut keterangan angku Lukman Dt.Bagindo yang sekarang telah bergelar Bandaro Nan Panjang dan Angku Dt. Rajo Mainpuni bahwa sekitar tahun 1915 M. Peraturan Pemerintah Belanda sangat kejamnya seperti pemungutan Blasteng (pajak) dan uang rodi (uang kerja paksa) dan sulitnya kapalo Nagari Sungai Batang mencapai daerah subarang atau daerah rantau, mangko diadokan mufakat oleh KepalaNagari Sungai Batang dengan Kepala Nagari Tanjung Sani beserta Niniak Mamak dengan keputusan pertukaran Daerah yaitu :
1. Jorong Tanjung Sani dan Jorong Data Kampung Dadok pemerintahannya masuk ke Nagari Sungai Batang.
2. Jorong Pandan,Galapung,Batu Nanggai,Muko Jalan Sigiran,Sungai Tampang sampai kedama gadang Arikir,Lubuak Sao Koto Panjang masuk Pemerintahan Nagari Tanjung Sani.
3. Adat istiadat sako dan pusako tetap seperti biasa.
Maka dengan masuknya Jorong Tanjung Sani dan Jorong Data dan di tambah dengan di jadikannya Kubu sebagai satu jorong maka berjumlah jorong di nagari Sungai Batang menjadi 7 (tujuh) Jorong
d. Asal Muasal Nama Nagari
Mengenai nama Sungai Batang, ada dua versi riwayat yaitu :
1. Dari “Sungia Batang”
Ada sebatang kayu raksasa yang terakhir tumbang di taruko bancah, bernama kayu Bangka, letaknya di sebelah timur Muaro Pauh sekarang, hampir kekaki bukit bunian . untuk merubuhkannya pada pangkal batang di bakar sampai tumbang. Lamanya proses pembakaran konon makan waktu tiga bulan 10 hari .Suatu malam dia rubuh kebumi.Begitu hebat gelegarnya sampai terdengar kea rah ilia. Oleh para peladang di Paninjauan maka berucaplah seorang tua disana “ Lah tasungia batang diarah mudiak” Tasungia dalam bahsa Indonesianya adalah terjungkal, dan dia ingin mengatakan telah rubuh batang diselatan. Dari Kosa kata Sungia dan Batang itulah asal mulanya kata “Sungai Batang”
2. Dari “Sungai di bawah batang”
Setelah kayu Bangka rubuh dari bawahnya memancar air yang kemudian membesar dan mengalir ke Sungai Ligin di bawahnya. Nah berawal dari kata “Sungai” dan“Batang” tadilah berasal kata “Sungai Batang”
Entah mana yang benar diantara fersi itu tidak ada yang tahu pasti, yang jelas cerita ini sangat diyakini oleh orang Sungai Batang sampai sekarang.
e. Asal Muasal Nama Jorong
Setiap nama punya arti atau riwayat, begitu juga dengan nama-nama Jorong yang ada dalam Kanagarian Sungai Batang. Berikut ini kami akan tuliskan nama-nama jorong beserta riwayat dan artinya :
1. Jorong Nagari: Inilah cikal bakal Nagari Sungai Batang
2. Jorong Batung Panjang : Dulunya hutan bambu liar yang panjang-panjang
3. Jorong Labuah : nama dari daerah lintasan nenek moyang tempo dulu
4. Jorong Tanjung Sani daerah yang bertanjung (junguik) yang sunyi
5. Jorong Data Kampung Dadok ranahnya memang datar dan banyak pohon dadok.
6. Jorong Batu Ajuang disana ada batu besar. Ajung = agung = Besar
7. Jorong Kubu disana didirikan kubu pertahanan /perlindungan pada saat Perang Padri melawan Belanda diawal abad ke 19 yang lalu.
Adapun nama-nama kubu,panji di Jorong Labuah, Benteng di jorong Nagari dan Batung Panjang, berasal dari istilah perang melawan Belanda dizaman Padri dulu. Satu bukti bahwa masyarakat Sungai Batang aktif berperang secara fisik melawan penjajah.Sejarah mengatakan kalau Matur adalah basis pertahanan kaum Padri. Maka Nagari Sungai Batang menjadi medan penyangga fron Matur dibawah komando syekh Pariaman, nenek buyutnya Buya HAMKA.
f. Pemerintahan Sepanjang Zaman
Sebagai satu Nagari di Minangkabau, Sungai Batang mempunyai pemerintahan adat, setiap suku terdiri dari kelompok-kelompok yang disebut “Payung” dan setiap paying diperintah oleh satu Lembaga Adat. Dia terdiri atas 4 (empat) unsure yang disebut orang nan 4 jinih, terdiri dari : Penghulu sebagai pucuk pimpinan , dibantu oleh tiga komponen: Imam Khatib mengurusi bidang Agama dan spiritual, mamak pusako (semacam manti ditempat lain ) memegang persoalan hukum , harta pusaka dan kesejahtreraan. Kemudian ada petugas keamanan dan ketertiban yang disebut Parik Paga, semacam dubalang atau polisi.Mereka dipilih dan dikukuhkan oleh musyawarah kaum berdasarkan giliran, dia boleh memerintah selama tanpa batas waktu kecuali meninggal, uzur, atau melanggar adat.
Diantara payung-payung sesuku apa lagi antar suku tidak boleh saling intervensi , kecuali hubungan emosional dan kekerabatan saja. Sebagai satu pemerintahan adat menurut system Bodi Caniago , semua Penghulu di Nagari terhimpun dalam suatu Korp Niniak Mamak di bawah pimpinan Angku Palo (Sekarang Wali Nagari) Beliau di pilih oleh para Niniak Mamak secara aidak aklamasi. Kekuasaan angku palo hanya berhak sebatas coordinator dan tidak berhak mencampuri urusan iteren perkauman. Sejak dikeluarkannya Perda tentang pemerintahan Desa, jabatan Wali Nagari dipilih langsung oleh rakyat, kriterianya tidak lagi harus seorang pemangku adat.Siapapun boleh asal Anak Nagari Sungai Batang.
Didaerah Luhak nan 3 (tigo). Tanah Datar, Agam dan 50,, kedaulatan Adat hanya sebatas Nagari. Tidak ada hubungan hirarkhi keatas, termasuk ke pusat Kerajaan Pagar Ruyung di Batu Sangkar.Itu berlaku sepanjang sejarah Minangkabau.
Tapi semenjak dikeluarkannya Plakat panjang pada tahun 1833, kebijakan colonial Belanda mebuat jalur Pemerintahan dari Nagari sampai ke Residen (sekarang Gubernur) di Padang.
Beberapa Nagari di himpun dalam suatu wilayah kekuasaan bernama kelarasan yang di pimpin oleh seorang bumi putera berpangkat Lareh. Lareh bertanggung jawab kepada contreleur seorang pejabat Belanda yang disini dinamakan Kunteler .diatasnya ada pejabat berpangkat Residen (Setingkat Bupati). Seterusnya Residen di Padang dan Gubernur Jendral di Jakarta, terakhir Raja Belanda di Den Hag.
Akan halnya Sungai Batang terhimpun dalam kelarasan IV Koto yaitu ; Bayur, Maninjau, Tanjung Sani dan Sungai Batang. Pada menjelang tahun 1840 , diangkatlah seorang bernama Sidubalang gelar DT. Rajo Bandaro suku guci (sekarang sudah tak dikenal).Pilihan ini atas pertimbangan bahwa Sungai Batang adalah Nagari tertua di selingkar Danau Maninjau.Ini sesuai dengan keterangan Angku Darwis Thaib gelar DT.Siri Bandaro seorang Niniak Mamak orang Maninjau dalam bukunya Seluk Beluk Adat Minangkabau. Kelarasan ini hanya berlangsung sampai 3 periode, kemudian system pemerintahan Belanda menggantikannya dengan apa yang disebut Demang. Wilayah kekuasaan Demang lebih luas dari Kelarasan.Dia meliputi; Distrik Maninjau, Lubuk Basung, matur, Palembayan. Setelah merdeka , Pemerintah Revablik Indonesia menghapus Demang, hanya ada Camat yang dulunya disebut Asisten Wedana, dibawah Bupati.
Adapun selama 3 periode Pemerintahan Kelarassan pejabat Larehnya tetap orang Sungai Batang berdasarkan keturunan, Lareh pertama Sidubalang Dt.Rajo Bandaro, Beliau digantikan anaknya bergelar Dt.Pamoncak, suku guci, Lareh kedua ini tidak cakap memerintah. Dia di gantikan oleh anak laras pertama dari istrinya suku piliang, bernama Mohammad Amin gelar Dt. Pangulu Basa, setelah kelarasan di hapuskan , yang menjadi pejabat Demang adalah putra Lareh terakhir bergelar Dt.Bandaro Kayo suku Caniago.
Setelah merdeka , Pemerintah Refablik Indonesia melanjutkan system pemerintahan Belanda dengan sedikit perubahan , artinya sejak pertengahan abad ke 19 kedaulatan Adat tidak lagi Dominan yang mutlak berkuasa adalah Pemerintah , sedangkan adat hanyalah sebatas formalitas. Dia disebut Pimpinan –Informal dengan kekuasaan semu.Jenjang pemerintahan formal jelas dari bawah keatas lengkap dengan Undang-Undang dan sanksinya. Jalur pemerintahan terakhirnya adalah Kenagarian dan Walinagari di bantu oleh Kepala Jorong.Kampung KB IFBP Terletak di nagari Sungai Batang
Statistik Kampung
Jumlah Jiwa 3963
Jumlah Kepala Keluarga 1169
Jumlah PUS 541
Keluarga yang Memiliki Balita 277
Keluarga yang Memiliki Remaja 601
Keluarga yang Memiliki Lansia 461
Jumlah Remaja 704
Total
343Total 198
Status Badan Pengurus

Sarana dan Prasarana

BKB
Bina Keluarga Balita (BKB)
Ada

BKR
Bina Keluarga Remaja (BKR)
Ada

BKL
Bina Keluarga Lansia (BKL)
Ada

UPPKA
Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA)
Ada

PIK R
Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R)
Ada

Sekretariat KKB
Sekretariat Kampung KB
Ada

Rumah Dataku
Rumah Data Kependudukan Kampung KB
Ada
Dukungan Terhadap Kampung KB
Sumber Dana |
Ya,
APBN APBD Dana Desa Donasi/ Hibah Masyarakat Swadaya Masyarakat |
Kepengurusan/pokja KKB | Ada |
SK pokja KKB | Ada |
PLKB/PKB sebagai pendamping dan pengarah kegiatan |
Ada,
VELA KURNIA SEPTI 199109052022212003 |
Regulasi dari pemerintah daerah |
Ada,
Surat Keputusan/Instruksi/Surat Edaran dari Gubernur Surat Keputusan/Instruksi/Surat Edaran dari Bupati/Walikota SK Kepala Desa/Lurah tentang Kampung KB |
Pelatihan sosialisasi bagi Pokja KKB | Ada |
Jumlah anggota pokja yang sudah terlatih/tersosialisasi pengelolaan KKB |
18 orang pokja terlatih dari 18 orang total pokja |
Rencana Kegiatan Masyarakat | Ya |
Penggunaan data dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan |
Ya,
PK dan Pemutahiran Data Data Rutin BKKBN Potensi Desa Data Sektoral |
Mekanisme Operasional
Rapat perencanaan kegiatan | Ada, Frekuensi: Bulanan |
Rapat koordinasi dengan dinas/instansi terkait pendukung kegiatan | Ada, Frekuensi: Bulanan |
Sosialisasi Kegiatan | Ada, Frekuensi: Bulanan |
Monitoring dan Evaluasi Kegiatan | Ada, Frekuensi: Bulanan |
Penyusunan Laporan | Ada, Frekuensi: Bulanan |